Kamis, 15 Agustus 2013

Pengertian Psikologi Sosial, Perkembangan Psikologi Sosial serta Tujuan Psikologi Sosial



A.     Pengertian Psikologi Sosial
Psikologi Sosial adalah cabang dari ilmu psikologi yang berupaya untuk memahami dan menjelaskan cara berpikir, berperasaan, dan berperilaku individu yang dipengaruhi oleh kehadiran orang lain. Kehadiran orang lain itu dapat dirasakan secara langsung, diimajinasikan, atau diimplikasikan. (Baron dan Byrne, 2004)

Menurut Myers (2002), Psikologi Sosial adalah cabang ilmu psikologi yang mempelajari secara menyeluruh tentang hakikat dan sebab-sebab perilaku individu dalam lingkungan sosial.
Psikologi Sosial ini mulai dirintis pada tahun 1930 di Amerika Serikat, kemudian berkembang ke negara-negara lain di dunia. Jadi ilmu ini termasuk masih baru, karna baru muncul pada abad modern.
Psikologi Sosial berkaitan erat dengan Sosiologi. Perbedaan dari keduanya terletak pada pokok bahasannya. Psikologi Sosial membahas tentang manusia sebagai individu yang menjadi anggota masyarakat. Sedangkan Sosiologi konteksnya lebih luas, yaitu menyangkut tentang kelompok manusia sebagai satu kesatuan.

B.     Perkembangan Psikologi Sosial
Dalam sejarahnya yang masih pendek, perkembangan psikologi sosial dapat di uraikan melalui beberapa tahap yaitu masa dalam kandungan, masa bayai, masa kanak-kanak,masa dewasa, dan masa yang akan datang.
Gabriel tarde (1842-1904) ia adalah seorang sosiologi dan kriminologi prancis yang dianggappula sebagai bapak psikologi sosial (social interaction) tarde berpendapat bahwa semua hubungan sosial selalu berkisar pada proses imitasi, bahkan semua pergaulan antar manusia hanyalah semata-mata berdasarkan atas proses imitasiitu.
Kata imitasi berasal dari bahasa inggris yaitu to imitate yang berarti mencontoh, mengikuti suatu pola, istilah imitasi ini secara populer diartikan secara meniru. Menurut tarde masyarakat tidak alain dari pengelompokan manusia. Dimana individu mengimitasi individu yang lain dan sebaliknya. pendapat tarde tersebut ternyata banyak mendapat kritikan seperti yang dikemukakan chorus, yang anatara lain mengatakan bahwa teori tarde ternyata berat sebelah. Walaupun tarde tidak tidak di terima secara mutlak namun olehnya telah dikemukakan suatu factor yang memegang peranan penting pergaulan sosial antara lain manusia.
Menurut pendapat Tarde, semua saling hubung sosial (sosial interaction) itu berkisar pada imitasi, bahkan semua pergaulan antar manusia itu, menurut pandangan ini, hanyalah berdasarkan proses imitasi itu. Dan menurut Trade perkembangan proses imitasi dalam masyarakat itu merupakan kelangsungan yang dapat dirumuskan sebagai berikut. Pertama, tumbul sebuah gagasan atau keyakinan baru dalam masyarakat sabagai rangsangan pikiran. Kedua, ide baru itu diiimitasi kemudian disebarkan oleh orang banyak di  masyarakat itu. Penyebaran secara imitasi ini merupakan suatu proses psikologi yang berlangsung menurut dalil dalil tertentu.
Jadi, dalam garis besarnya kehidupan masyarakat itu ditentukan oleh 2 macam kejadian utama. Pertama, timbulnya gagasan-gagasan baru (inventiouns) yang dirumuskan oleh individu yang berbakat tinggi, dan kedua, proses imitasi dari gagasan-gagasan tersebut oleh orang banyak.
Menurut Tride, masyarakat itu tiada lain dari prngelompokan manusia, dimana individu-individu yang satu mengimitasi individu yang lain, dan sebaliknya. Bahkan masyarakat itu baru menjadi manusia sebenarnya apabila manusia mulai mengimitasi manusia lainya, La sosiete c’est l’imitasion.
Teori psikologi sosial dari Grade Trade bertitik tumpu pada proses imitasi sebagai dasar dari interaksi sosial antar manusia.
Trhadap pendapat Trade ini telah dikemukakan beberapa kritik, misalnya Chorus , sebagai berikut  :
1.      Hal hal yang diimitasi itu harus mendapat perhatian individu terlebih dahulu, supaya dapat diimitasi, tanpa perhatian terlebih dahulu, tak ada imitasi.
2.      Selanjutnya harus terdapat sikap menjunjung tinggi atau mengagumi hal hal yang akan diimitasi.
3.      Harus terdapat pengertian yang cukup pada orang orang terhadap hal hal yang ingin diimitasi, dan hal itu tergantung pila terhadap individu, kepada taraf integelesinya dan kepribadian pada umumnya.

            Gustav le bon (1841-1892) ia terkenal karena sumbangannya psikologi massa, yang dimaksud dengan massa adalah kumpulan orang-orang untuk sementara waktu karena minat dan kepentingan bersama. Ia juga mengatakan bahwa massa itu mempunyai jiwa tersendiri yang berlainan sifatnya dengan sifat-sifat jiwa individu.
Ciri-ciri massa tersebut ialah:
1.      Suatu kumpulan dari banyak orang berjumlah ribuan atau ratusan, yang
2.      Berkumpul dan mengadakan saling hubungan sementara waktu
3.      Karena minat atau kepentingan bersama yang sementara pula.
            Jadi seorang individu yang tergabung dalam massa itu akan bertingkah laku secara berlainan dibanding dengan tingkah lakunya dalam kehidupan sehari-hari sebagai individu. pendapat le bon ini juga dapat menimbulkan banyak kritik terutama pandangannya terhadap massa. Jiwa massa di anggap banyak menimbulkan sifat-sifat negativ padahal anggapan tersebut tidak selalu benar seutuhnya, sebab massa dapat membangun secara konstruktif serta dapat mendorong untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang positif.
Emile durkheim (1858-1917) sebagai seorang tokoh sosiologi ia berpendapat bahwa :
                   Sosiologi adalah ilmu pengetahuan otonom seperti juga psikologi. Tetapi, menurut Durkheim gejala-gejala sosial masyarakat tidak dapat diterangkan oleh psikologi, tetapi hanya oleh sosiologi. Sebab yang mendasari gejala sosial itu adalah suatu “kesadaran kolektif”, dan bukan “kesadaran individual”, sehingga gejala-gejala sosial yang menurut Durkheim diasari oleh jiwa kolektif, hanya dapat diperoleh oleh sosiologi yang memelajari jiwa kolektif itu, dan tidak oleh psikologi yang menurut Durkheim hanya mempelajari jiwa individual.
Dan menurut Durkheim, masyarakat itu terdiri atas kelompok manusia yang hidup secara kolektif dengan pengertian dan tanggapan-tanggapan kolektif.
Gagasan bahwa sebenarnya terdapat dua macam jiwa yaitu group mind dan individual mind, jiwa kelompok dan jiwa individu yang berlainan, itu pertama-tama dirumuskan oleh Durkheim dan telah kita temukan pula dapa gagasan Gustave Le Bon.
Masyarakat itu, menurut Durkheim ialah sistem yang mengikat kehidupan orang-orang, dan merupakan lingkungan yang menguasai segala kehidupan. Durkheim berpendapat bahwa untuk mempelajari ciri-ciri tinglah laku seseorang manusia tak usahlah kita mempelajarinya pada tingkah laku pribadinya, tetapi cukuplah kita pelajari sosiologi lingkungan masyarakat dimana ia hidup.
Dengan kata lain semua psikologi itu sebenarnya sosiologi.
Pendapat ini adalah pendapat yang tepat kebalikannya denga Tarde, mengenai perbandingan antara psikologi dan sosiologi.
Pendapat itu dapat kita sebut psikiologisme dalam  hal menerangkan gejala-gejala sosial dalam masyarakat.
Sosiologisme : Memberikan tekanan yang terlampau besar terhadap pengaruh kelompok dan proses-proses di dalamnya, dalam uraianya terhadap interaksi dan gejala-gejala kehidupan manusia.
Psikologisme : Memberikan tekanan yang terlampau besar kepada peranan individu dan proses di dalam dirinya, dalam urainya tentang gejala-gejala sosial.

§  Gejala-gejala sosial yang terdapat dalam masyarakat tidak dapat dibahas oleh psikologi, melainkan hanya oleh sosiologi adapun alsannya ialah bahwa yang mendasari gejala-gejala sosial itu suatu kesadaran kolektif dan bukan kesadaran individual.
§  Masyarakat itu terdiri dari kelompok-kelompok manusia yang hidup secara kolektif dengan pengertian-pengartian dan tangapan-tanggapan yang kolektif pula dan hanya dengan kehidupan kolektif itulah yang dapat menerangkan gejala-gejala sosial.
§  Bahwa manusia terdapat dua macam jiwa seperti yang dikatakan oleh le bon yaitu jiwa kelompok (group mind) dan jiwa individu (individual mind)
            Durkheim pun mendapat beragam keritikan yaitu berat sebelah yaitu artinya menitik beratkan pada peranan jiwa kolektif dan fantasis artinya pendapat mengenai jiwa kolektif hanya suatu lamunan, khayalan saja yang sukar di buktikan oleh kehidupan nyata.
            psikologi sosial modern mulai dikembangkan pada saat pergantian abad ke 19 menuju abad 20. Tripplet (1898) memulai sebuah eksperimen perdana dalam bidang psikologi sosial dengan meneliti pengaruh kehadiran orang lain terhadap peningkatan performance seseorang dalam mengerjakan suatu tugas, topic yang di telitinya sering disebut "fasilitas sosial" (social fasilitation) yang sampai saat ini masih banyak diminati oleh para ahli psikologi sosial. selain itu, buku yang berjudul social Psychology diterbitkan pada tahun 1908 (McDougall, 1908; Ross, 1908).
            Menjamurnya penelitian-penelitian di bidang psikologi sosial barangkali dimulai priode 1920-1940.Beberapa topik penelitian sengaja di fokuskan pada isu-isu tertentu yang sedang booming pada masa itu. Contohnya, pada awal 1900an, yang pada masa itu terjadi imigrasi besar-besaran penduduk eropa barat menuju Amerika utara. Tentunya bukanlah hal yang mengejutkan bila penelitian-penelitian yang banyak dilakukan berbicara tentang sikap, kebangsaan, dan kelompok-kelompok etnis (Pancer, 1997)
C.     Tujuan Psikologi Sosial
Sama halnya tujuan dalam bidang-bidang yang lain, tujuan pembelajaran Psikologi Sosial bertumpu pada tujuan yang lebih tinggi. Secara hirarki, tujuan Pendidikan Nasional pada tataran operasional dijbarkan dalam tujuan institusioanl tiap jenis dan jenjeang pendidikan . selanjutnay pencapaian tujuan institusional ini, secara praktis dijabarkan dalam tujuan kurikuler atau tujuan mata pelajaran. Akhirnay tujuan kurikuler ini, secara praktis operasional dijabarkan dalam tuuan instruksional atau tujuan pembelajaran.dalam sub bahasan ini, dibatasi p[ada uraian tuuan kurikuler bidang studi Psikologi Sosial. Tujuan kurikuler Psikologi Sosial yang harus dicapai sekurang-kurangnay meliputi lima tujuan berikut.
a.    Membekali peserta didik dengan pengetahuan Psikologi Sosial sehinggat tidak terpenagruh, tersugesti, atau terpengaruh oleh situasi sosial yang selamanya tidak bernilai baik.
b.    Membekali peserta didik dengan kemampuan memngiudentifikasi, mengnalisa dan menyusun alternatif pemecahan masalah-masalah sosial secara teap dan sisitematis mengenai proses kejiwaan yang berhubuunagn dengan kehidupn bersama.
c.    Membekali peserta didik dengan kemampuan berkomunikasi denagn sesama warga masyarakat sehingga memudahkan dalam melakukan pendekatan untuk mewujudkan perubahan dan pengrahan kepada tujuan denagn sebaik-baiknya.
d.    Membekali peserta didik denagn kesadaran terhadap lingkungan sosial sehingga mampu merubah sifat dan sikap sosialnya.
e.    Membekali peserta didik denagn kemampuan mengembangkan pengetahuan dan keimuan psikologi sosial sesuai dengan perkembangan kehidupan, perkembanagn masyarakat \, perkembanagn ilmu, dan perkembangan teknologi.

Kelima tujuan di atas menjadi tanggung jawab yang harus dicapai dalam pelajsanaan kurikulum Psikologi Sosial di berbagai lembaga pendidikan. Tentu denagn keluasan, kedalaman, dan bobot yangs esuai dengan jenis dan jenjang pendidikan yang dilaksanmakan




Tidak ada komentar:

Posting Komentar