A. Pengertian
Psikologi Sosial
Psikologi Sosial adalah cabang dari ilmu psikologi
yang berupaya untuk memahami dan menjelaskan cara berpikir, berperasaan, dan
berperilaku individu yang dipengaruhi oleh kehadiran orang lain. Kehadiran
orang lain itu dapat dirasakan secara langsung, diimajinasikan, atau diimplikasikan.
(Baron dan Byrne, 2004)
Menurut Myers (2002), Psikologi Sosial adalah cabang
ilmu psikologi yang mempelajari secara menyeluruh tentang hakikat dan
sebab-sebab perilaku individu dalam lingkungan sosial.
Psikologi Sosial ini mulai dirintis
pada tahun 1930 di Amerika Serikat, kemudian berkembang ke negara-negara lain
di dunia. Jadi ilmu ini termasuk masih baru, karna baru muncul pada abad
modern.
Psikologi Sosial berkaitan erat dengan Sosiologi.
Perbedaan dari keduanya terletak pada pokok bahasannya. Psikologi Sosial
membahas tentang manusia sebagai individu yang menjadi anggota masyarakat.
Sedangkan Sosiologi konteksnya lebih luas, yaitu menyangkut tentang kelompok
manusia sebagai satu kesatuan.
B. Perkembangan Psikologi Sosial
Dalam sejarahnya yang masih pendek, perkembangan psikologi sosial dapat di
uraikan melalui beberapa tahap yaitu masa dalam kandungan, masa bayai, masa
kanak-kanak,masa dewasa, dan masa yang akan datang.
Gabriel tarde (1842-1904) ia adalah seorang sosiologi dan kriminologi
prancis yang dianggappula sebagai bapak psikologi sosial (social interaction)
tarde berpendapat bahwa semua hubungan sosial selalu berkisar pada proses
imitasi, bahkan semua pergaulan antar manusia hanyalah semata-mata berdasarkan
atas proses imitasiitu.
Kata imitasi berasal dari bahasa inggris yaitu to imitate yang berarti
mencontoh, mengikuti suatu pola, istilah imitasi ini secara populer diartikan
secara meniru. Menurut tarde masyarakat tidak alain dari pengelompokan manusia.
Dimana individu mengimitasi individu yang lain dan sebaliknya. pendapat tarde
tersebut ternyata banyak mendapat kritikan seperti yang dikemukakan chorus,
yang anatara lain mengatakan bahwa teori tarde ternyata berat sebelah. Walaupun
tarde tidak tidak di terima secara mutlak namun olehnya telah dikemukakan suatu
factor yang memegang peranan penting pergaulan sosial antara lain manusia.
Menurut pendapat Tarde, semua
saling hubung sosial (sosial interaction) itu berkisar pada imitasi, bahkan
semua pergaulan antar manusia itu, menurut pandangan ini, hanyalah berdasarkan
proses imitasi itu. Dan menurut Trade perkembangan proses imitasi dalam
masyarakat itu merupakan kelangsungan yang dapat dirumuskan sebagai berikut.
Pertama, tumbul sebuah gagasan atau keyakinan baru dalam masyarakat sabagai
rangsangan pikiran. Kedua, ide baru itu diiimitasi kemudian disebarkan oleh
orang banyak di masyarakat itu. Penyebaran secara imitasi ini merupakan
suatu proses psikologi yang berlangsung menurut dalil dalil tertentu.
Jadi, dalam garis besarnya kehidupan masyarakat itu ditentukan oleh 2 macam
kejadian utama. Pertama, timbulnya gagasan-gagasan baru (inventiouns) yang dirumuskan
oleh individu yang berbakat tinggi, dan kedua, proses imitasi dari
gagasan-gagasan tersebut oleh orang banyak.
Menurut Tride, masyarakat itu tiada lain dari prngelompokan manusia, dimana
individu-individu yang satu mengimitasi individu yang lain, dan sebaliknya.
Bahkan masyarakat itu baru menjadi manusia sebenarnya apabila manusia mulai
mengimitasi manusia lainya, La sosiete c’est l’imitasion.
Teori psikologi sosial dari Grade Trade bertitik tumpu pada proses imitasi
sebagai dasar dari interaksi sosial antar manusia.
Trhadap pendapat Trade ini telah dikemukakan beberapa kritik, misalnya
Chorus , sebagai berikut :
1. Hal hal yang
diimitasi itu harus mendapat perhatian individu terlebih dahulu, supaya dapat
diimitasi, tanpa perhatian terlebih dahulu, tak ada imitasi.
2. Selanjutnya
harus terdapat sikap menjunjung tinggi atau mengagumi hal hal yang akan
diimitasi.
3. Harus
terdapat pengertian yang cukup pada orang orang terhadap hal hal yang ingin
diimitasi, dan hal itu tergantung pila terhadap individu, kepada taraf
integelesinya dan kepribadian pada umumnya.
Gustav
le bon (1841-1892) ia terkenal karena sumbangannya psikologi massa, yang
dimaksud dengan massa adalah kumpulan orang-orang untuk sementara waktu karena
minat dan kepentingan bersama. Ia juga mengatakan bahwa massa itu mempunyai
jiwa tersendiri yang berlainan sifatnya dengan sifat-sifat jiwa individu.
Ciri-ciri massa tersebut ialah:
1. Suatu
kumpulan dari banyak orang berjumlah ribuan atau ratusan, yang
2. Berkumpul
dan mengadakan saling hubungan sementara waktu
3. Karena minat
atau kepentingan bersama yang sementara pula.
Jadi
seorang individu yang tergabung dalam massa itu akan bertingkah laku secara
berlainan dibanding dengan tingkah lakunya dalam kehidupan sehari-hari sebagai
individu. pendapat le bon ini juga dapat menimbulkan banyak kritik terutama
pandangannya terhadap massa. Jiwa massa di anggap banyak menimbulkan
sifat-sifat negativ padahal anggapan tersebut tidak selalu benar seutuhnya,
sebab massa dapat membangun secara konstruktif serta dapat mendorong untuk
melakukan perbuatan-perbuatan yang positif.
Emile durkheim (1858-1917) sebagai seorang tokoh sosiologi ia berpendapat
bahwa :
Sosiologi adalah ilmu pengetahuan otonom seperti
juga psikologi. Tetapi, menurut Durkheim gejala-gejala sosial masyarakat tidak
dapat diterangkan oleh psikologi, tetapi hanya oleh sosiologi. Sebab yang
mendasari gejala sosial itu adalah suatu “kesadaran kolektif”, dan bukan “kesadaran
individual”, sehingga gejala-gejala sosial yang menurut Durkheim diasari oleh
jiwa kolektif, hanya dapat diperoleh oleh sosiologi yang memelajari jiwa
kolektif itu, dan tidak oleh psikologi yang menurut Durkheim hanya mempelajari
jiwa individual.
Dan menurut Durkheim,
masyarakat itu terdiri atas kelompok manusia yang hidup secara kolektif dengan
pengertian dan tanggapan-tanggapan kolektif.
Gagasan bahwa sebenarnya
terdapat dua macam jiwa yaitu group mind dan individual mind, jiwa kelompok dan
jiwa individu yang berlainan, itu pertama-tama dirumuskan oleh Durkheim dan
telah kita temukan pula dapa gagasan Gustave Le Bon.
Masyarakat itu, menurut
Durkheim ialah sistem yang mengikat kehidupan orang-orang, dan merupakan
lingkungan yang menguasai segala kehidupan. Durkheim berpendapat bahwa untuk
mempelajari ciri-ciri tinglah laku seseorang manusia tak usahlah kita
mempelajarinya pada tingkah laku pribadinya, tetapi cukuplah kita pelajari
sosiologi lingkungan masyarakat dimana ia hidup.
Dengan kata lain semua psikologi
itu sebenarnya sosiologi.
Pendapat ini adalah pendapat
yang tepat kebalikannya denga Tarde, mengenai perbandingan antara psikologi dan
sosiologi.
Pendapat itu dapat kita sebut
psikiologisme dalam hal menerangkan gejala-gejala sosial dalam masyarakat.
Sosiologisme : Memberikan
tekanan yang terlampau besar terhadap pengaruh kelompok dan proses-proses di
dalamnya, dalam uraianya terhadap interaksi dan gejala-gejala kehidupan
manusia.
Psikologisme : Memberikan
tekanan yang terlampau besar kepada peranan individu dan proses di dalam
dirinya, dalam urainya tentang gejala-gejala sosial.
§ Gejala-gejala sosial yang
terdapat dalam masyarakat tidak dapat dibahas oleh psikologi, melainkan hanya
oleh sosiologi adapun alsannya ialah bahwa yang mendasari gejala-gejala sosial
itu suatu kesadaran kolektif dan bukan kesadaran individual.
§ Masyarakat itu terdiri dari
kelompok-kelompok manusia yang hidup secara kolektif dengan
pengertian-pengartian dan tangapan-tanggapan yang kolektif pula dan hanya
dengan kehidupan kolektif itulah yang dapat menerangkan gejala-gejala sosial.
§ Bahwa manusia terdapat dua
macam jiwa seperti yang dikatakan oleh le bon yaitu jiwa kelompok (group mind)
dan jiwa individu (individual mind)
Durkheim
pun mendapat beragam keritikan yaitu berat sebelah yaitu artinya menitik
beratkan pada peranan jiwa kolektif dan fantasis artinya pendapat mengenai jiwa
kolektif hanya suatu lamunan, khayalan saja yang sukar di buktikan oleh
kehidupan nyata.
psikologi sosial modern mulai dikembangkan pada saat pergantian abad ke 19
menuju abad 20. Tripplet (1898) memulai sebuah eksperimen perdana dalam bidang
psikologi sosial dengan meneliti pengaruh kehadiran orang lain terhadap
peningkatan performance seseorang dalam mengerjakan suatu tugas, topic yang di
telitinya sering disebut "fasilitas sosial" (social fasilitation)
yang sampai saat ini masih banyak diminati oleh para ahli psikologi sosial.
selain itu, buku yang berjudul social Psychology diterbitkan pada tahun 1908
(McDougall, 1908; Ross, 1908).
Menjamurnya penelitian-penelitian di bidang psikologi sosial barangkali dimulai
priode 1920-1940.Beberapa topik penelitian sengaja di fokuskan pada isu-isu
tertentu yang sedang booming pada masa itu. Contohnya, pada awal 1900an, yang
pada masa itu terjadi imigrasi besar-besaran penduduk eropa barat menuju
Amerika utara. Tentunya bukanlah hal yang mengejutkan bila
penelitian-penelitian yang banyak dilakukan berbicara tentang sikap,
kebangsaan, dan kelompok-kelompok etnis (Pancer, 1997)
C. Tujuan
Psikologi Sosial
Sama halnya tujuan dalam bidang-bidang yang lain, tujuan pembelajaran
Psikologi Sosial bertumpu pada tujuan yang lebih tinggi. Secara hirarki, tujuan
Pendidikan Nasional pada tataran operasional dijbarkan dalam tujuan
institusioanl tiap jenis dan jenjeang pendidikan . selanjutnay pencapaian
tujuan institusional ini, secara praktis dijabarkan dalam tujuan kurikuler atau
tujuan mata pelajaran. Akhirnay tujuan kurikuler ini, secara praktis
operasional dijabarkan dalam tuuan instruksional atau tujuan pembelajaran.dalam
sub bahasan ini, dibatasi p[ada uraian tuuan kurikuler bidang studi Psikologi
Sosial. Tujuan kurikuler Psikologi Sosial yang harus dicapai sekurang-kurangnay
meliputi lima tujuan berikut.
a.
Membekali
peserta didik dengan pengetahuan Psikologi Sosial sehinggat tidak terpenagruh,
tersugesti, atau terpengaruh oleh situasi sosial yang selamanya tidak bernilai
baik.
b.
Membekali
peserta didik dengan kemampuan memngiudentifikasi, mengnalisa dan menyusun
alternatif pemecahan masalah-masalah sosial secara teap dan sisitematis
mengenai proses kejiwaan yang berhubuunagn dengan kehidupn bersama.
c.
Membekali
peserta didik dengan kemampuan berkomunikasi denagn sesama warga masyarakat
sehingga memudahkan dalam melakukan pendekatan untuk mewujudkan perubahan dan
pengrahan kepada tujuan denagn sebaik-baiknya.
d.
Membekali
peserta didik denagn kesadaran terhadap lingkungan sosial sehingga mampu
merubah sifat dan sikap sosialnya.
e.
Membekali
peserta didik denagn kemampuan mengembangkan pengetahuan dan keimuan psikologi
sosial sesuai dengan perkembangan kehidupan, perkembanagn masyarakat \,
perkembanagn ilmu, dan perkembangan teknologi.
Kelima
tujuan di atas menjadi tanggung jawab yang harus dicapai dalam pelajsanaan
kurikulum Psikologi Sosial di berbagai lembaga pendidikan. Tentu denagn
keluasan, kedalaman, dan bobot yangs esuai dengan jenis dan jenjang pendidikan
yang dilaksanmakan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar