Konstruktivisme bukan merupakan suatu teori yang baru dalam bidang pendidikan. Teori ini bertitik tolak dari pada pandangan Behaviorisme yang mengkaji perubahan tingkah laku sehingga kepada kognitisme yang mengkaji tentang cara manusia belajar dan memperoleh pengetahuan yang menekankan perwakilan mental.
A. Pengertian Konstruktivisme
Konstruktivisme adalah salah satu filsafat pengaetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita itu adalah konstriksi atau bentukan kita sendiri. Jadi menurut teori konstrukstivisme belajar adalah kegiatan yang aktif dimana si subjek belajar membangun sendiri pengetahuannya.
Secara ringkasnya teori pembelajaran konstruktivisme adalah suatu paham tentang pengetahuan ide atau konsep yangbaru dibina secara aktif berdasarkan kepada pengalaman lepas dan pengetahuan yang ada dengan meklumat, ide atau konsep yang diterima sesuai bantuan sendiri, interaksi sosial atau sekitarnya diselaraska melalui proses metakognitif.
Adapun dibawah ini beberapa pengertian konstruktivisme yang lain :
1. Bettencourt 1989
Menyimpulkan bahwa konstruktivisme tidak bertujuan mengerti hakikat realitas, tetapi lebih hendak melihat bagaimana proses kita menjadi tahu tentang sesuatu.
2. Bruner 1960
Telah menekankan bahwa pembelajaran merupakan satu proses dimana pelajar membina ide baru atau konsep berasaskan kepada pengetahuan mereka. Pelajar memilih dan menginterprestasikan maklumat, membina hipotesis dan membuat keputusan yang melibatkan pemikiran mental (struktur kognitif seperti skema dan model mental) memberikan makna dan pembentukan pengalaman dan membolehkan individu melangkah melebihi maklumat yang diberikan (Beyond The Information Given). Hasil dari pada pendekatan ini beliau telah memperkenalkan pembelajaran penemuan (discovery learning).
3. Briner 1999
Berpendapat bahwa murid membina pengetahuan mereka dengan menguji ide dan pendekatan berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang ada, mengaplikasikannya kepada situasi baru dan mengintegrasikan pengetahuan baru yang diperoleh dengan binaan intelektual yang akan terwujud.
4. Brooks And Brooks 1993
Menyatakan bahwa murid membina makna tentang dunia dengan mengsintesis pengalaman baru kepada apa yang mereka telah pahami sebelum ini.
5. Mc. Brien And Brandt 1997
Konstruktivisme adalah suatu pendekatan pengajaran berdasarkan kepada penyelidikan tentang bagaimana manusia belajar. Kebanyakan penyelidik berpendapat setiap individu membina pengetahuan dan bukannya menerima pengetahuan dari pada orang la
B. Skema Pengertian Konstruktivism
C. Prinsip-prinsip Pembelajaran Konstruktivisme
Menrurut pusat perkembangan kurikulum 1991 salah satu implikasi utama pendeaktan konstruktivisme yang paling utama ialah pengajaran dan pembelajaran adalah berpusatkan belajar. Pengetahuan yang dipunyai oleh pelajar adalah hasil daripada aktivitas yang dilakukan oleh pelajar tersebut dan bukan pengajaran yang diterima secara pasif. Ia menekankan tindakan dan pemikiran pelajar dan bukan guru.
Berdasarkan skema 2, prinsip-prinsip pembelajaran utama yang berpusatkan pelajar mempunyai ciri-ciri yaitu pembelajaran merupakan satu proses yang aktif. Di sini guru perlu menerima autonomi pelajar. . Ia lebih menekankan pembelajaran daripada pengajaran..Pelajar diberi peluang untuk memilih golongan, strategi dan penilaian pelajarannya.
Yang kedua ialah motivasi merupakan kunci daripada pembelajaran di mana ia melakukan penemuan, perasaan ingin tahu dan inisiatif pelajar. Di samping itu pengalaman dari segi kepercayaan, sikap yang ada dan pengetahuan yang ada memainkan peranan yang kritikal dalam pembelajaran.
Oleh karena manusia mempunyai kecenderungan kognitif (cognitive predisposition). Pelajar mengkonstruksi pengetahuan melalui penglibatan aktivitas projek / kajian.( contoh; menguji hipotesis) dan membuat pilihan. Di sini, pengajaran perlu dibentuk untuk memudahkan ekstrapolasi dan memenuhi ruang (“going beyond the information given”).
Dalam teori konstruktivisme, pembelajaran adalah berbentuk kontekstual. Ia berkaitan dengan dunia kehidupan seseorang dan berhubungan dengan prejudis dan kebimbingannya. Pembelajaran juga ialah satu aktivitas sosial di mana ia menyokong pembelajaran koperatif dan melibatkan penggunaan bahasa. Ia melibatkan pelajar dengan situasi dunia sebenarnya. Pembelajaran sebagai aktivitas sosial ini juga menggunakan dialog dan perbincangan sesama pelajar atau antara guru dan pelajar. Satu lagi prinsip pembelajaran ialah ia mengambil masa. Di sini pelajar perlu diberikan masa yang mencukupi untuk menyelesaikan tugasan yang diberi. Ia menekankan pemikiran refleksi dan proses kematangan.
Pembelajaran konstruktivisme amat berfokus kepada pemahaman pelajar dan prestasinya. Mengikut Alessi & Trollip (2001), ia mempunyai asas dalam kognitif bersituasi dan perkaitan dengan pengajaran bertumpu.
D. Ciri Dan Prinsip dalam Belajar Menurut Paul Suparno 1997
1. Belajar berarti mencari makna. Makna diciptakan oleh siswa dari apa yang mereka lihat, dengar rasakan dan alami.
2. Konstruksi makna adalah proses yang terus menerus.
3. Belajar bukanlah kegiata mengumpulkan fakta, tetapi merupakan pengembangan pemikiran dengan membuat pengertian yang baru. Belajar bukanlah hasil perkembangan, tetapi perkembangan itu sendiri.
4. Hasil belajar dipengaruhi oleh pengalam subjek belajar dengan dunia fisik dan lingkungannya.
5. Hasil belajar seseorang tergantung pada apa yang telah diketahui, si subjek belajar tujuan, motivasi yang mempengaruhi proses interaksi dengan bahan yang telah dipelajari.
E. Pendekatan Pembelajaran Secara Konstruktivisme
1. Ketelibatan : simulasi perasaan ingin tahu pelajar melalui pemberian suatu tugas, topik astau konsep, memupuk minat dan membangkitkan permasalahan.
2. Penjelajahan : adalah bertujuan untuk memuaskan perasaan ingin tahu melalui penggunaan pendekatan inkuiri untuk menjajah dan menyiasati, melalui eksperimen, mengajarkan pelajr untuk bekerja sama.
3. Keterangan : pendekatan yang melibatkan definisi konsep dan pernyataaan. Pertanyaan tentang keterangan orang lain serta membuat pertimbangan dan penjelasan.
4. Penguraian : memperdalam lagi konsep ke dalam sudut pandang yang lain. Pelajar akan mengkaitkan dan melihat hubungan suatu konsep atau topik dalam sudut pandang yang lain dan membuat kaitan antara konsep atau topik ke dalam kehidupan sehari-hari.
5. Penilaian : menilai pemahaman pelajar melalui demonstrasi pemahaman dam kemahiran atau konsep pengetahuan. Mengakses pengetahuan pelajar, kemahiran dan konsep. Mengemukakan persoalan terbuka (contoh : Apa yang sedang anda pikirkan?
F. Peranan Guru dalam Pembelajaran Konstruktivisme
Seperti yang ditun jukan dalam skema 2 guru memainkan peranan sebagai fasilisator yang akan merancang dan menekankan aktifitas yang berpusatkan belajar. Guru merupakan pembimbing yang akan membantu pelajar menyadari kerelevanan kurikulum kepada kehidupan mereka. Guru akn mengenal pasti pengetahuan yang ada pada pelajar dan merancangkaidah pengajarannya dengan sifat asas pengetahuan tersebut. Guru juga merupakan pereka bentuk bahan pengajaran yang menyediakan peluang kepada murid untuk membina pengetrahuan baru. Guru senantiasa berpikiran terbuka yang senantiasa mendorong pelajar unutk menerangkan ide mereka serta menghargai pandangan mereka.
Sebagai penyokong kognitif, guru akan menstruktur pelajaran untuk merubah persepsi murid, mendukung mereka membuat tugas yang berbentuk penyelesaian, enganalisis, meramal, menerka dan membuat hipotesis. Pelajar juga perlu didorong untuk menerangkan lebih lanjut jawaban mereka. Selain itu pelajar juga didorong untuk membuat penemuan melalui pertanyaan dan tanya jawab antara satu sama lain. Masa yang secukupnya perlu diberikan agar pelajar dapat membuat kaitan antara ide-ide yang telah dijalankan. Akhirnya guru perlu tahu cara melaksanakan pembelajaran koperatif dalam menjalankan tugas dan membimbing pelajar untuk mendapatkan jawaban yang tepat.
G. Peranan Pelajar dalam Pembelajaran Konstruktivisme
Perubahan ke atas perannan pelajar dalam pembelajaran secara konstruktivisme melibatkan sikap tanggung jawab terhadap pembelajran mereka sendiri dan boleh menyelesaikan masalah. Pelajar juga perlu mempunyai inisiatif mengemukakan pendapat dan membuat analisis serta menjawab pendapat yang dikemukakan.Pembicaraan juga penting dalam membantu pelajar mengubah atau mngukuhkan ide-ide mereka, menemukakan pendapat dan mendengar ide orang lain serta mebina azas pengetahuan yang mereka pahami.
Selain itu pelajar juga perlu mempunyai kemahiran penggunaan teknologi dimana mereka dapat menggunakan data dan bahan-bahan fisikal manipulatif atau interaktif (misalnya akses kepada internet) menolong mereka mencari ide dan pengetahuan baru.
H. Kelebihan Pembelajaran Secara Konstruktivisme
Menurut Pusat Perkembangan Kurikulum (1991), pembelajaran secara konstruktivisme menumbuhkan kemahiran berfikir secara kreatif dan kritis. Ia mengajarkan pelajar berfikir untuk menyelesaikan masalah, mencari ide dan membuat keputusan yang bijak dalam menghadapi berbagai kemungkinan dan, misalnya dalam kegiatan penyelidikan dan penyiasatan dan pengujian hipotesis.
Selain itu ia memberikan pemahaman yang lebih jelas tentang suatu konsep dan ide di mana pelajar terlibat secara langsung dalam pembinaan pengetahuan baru dan mengaplikasikannya dalam kehidupan atau situasi baru.
Hasil daripada proses pemahaman konsep, pelajar dapat membina ingatan jangka panjang tentang sesuatu konsep melalui keterlibatan yang aktif dalam mengaitkan pengetahuan yang diterima dengan pengetahuan yang ada untuk membina pengetahuan yang baru.
Keyakinan pelajar dapat dipupuk hasil daripada pembelajaran ini pelajar berani mengahadapi dan menyelesaikan masalah dalam situasi baru.
Di samping itu pelajar juga dapat meningkatkan kemahiran sosialnya yaitu dapat bekerjasama dengan orang lain dalam menghadapi berbagai cobaan dan masalah. Kemahiran sosial ini dapat diperoleh apabila pelajar berinteraksi dengan teman - teman dan guru dalam membina pengetahuan mereka.
Akhirnya, hasil daripada pembelajaran secara konstruktivisme dimana pelajar membina pengetahuan, konsep dan ide baru secara aktif, pelajar akan meningkatkan pemahamannya, berasa lebih yakin untuk terus belajar sepanjang hayat walaupun menghadapi berbagai cobaan dan kemungkinan.
I. Kesimpulan
Akhirkata, konstruktivisme merupakan ide bahwa pembelajaran melibatkan pembinaan skima pengetahuan seorang individu yang dicapai melalui proses keseimbangan ( Reiber,1994). Keseimbangan ini dicapai melalui proses akomodasi dan assimilasi dimana skema pengetahuan baru dibentuk melalui penstrukturan semula skema pengetahuan baru dengan skema pengetahuan yang ada. Pendekatan ini merupakan pembelajaran induktif berdasarkan penemuan yang melibatkan penerkaan isi pelajaran dengan lebih lanjut, menguji ide, membina dan menguji hipotesis.
Konstruktivisme merupakan paradigma yang dominan dalam bentuk dan pembinaan perisian PPBK(Pengajaran dan Pembelajaran Berbantukan Komputer) dimana ia mempunyai asas yang kuat dalam bidang psikologi pembelajaran dan perkembangan kognitif. Pendekatan ini menekankan penyediaan sumber untuk pelajar membina pengetahuan sendiri. Dalam pendekatan BIG (Beyond the Information Given) pelajar dibekalkan dengan maklumat berarahan untuk pembentukan pengetahuan.
Walau bagaimanapun, untuk membentuk dan membina perisian PPBK yang efekrif dan berkualitas, gabungan elemen-elemen pendekatan lain seperti behaviorism, kognitivisme dan konstruktivism serta pendekatan lain amat diperlukan dan ini juga bergantung kepada golongan, jenis pengguna dan kandungan perisian. Dalam satu persekitaran pendidikan yang lengkap , ia melibatkan penggunaan teknologi bersama komponen lain seperti guru, pelajar, buku dan media lain.
DAFTAR PUSTAKA
Alessi, Stephen. M. & Trollip, Stanley, R. 2001. Multimedia for Learning.: Methods and Development. Massachusetts: Allyn and Bacon.
Boyle, Tom. 1997. Design for Multimedia Learning. Great Britian: Prentice Hall.
Bruner, J. 1973. Going Beyond the Information Given. New York: Norton.
Cunningham. D. J. 1991. Assessing constructions and constructing assessments: a dialouge, Educational Technologu, 31, no.5, 13-17.
Nik Azis Nik Pa. 1997. Konsep tentang realiti dan prospek pendidikan di abad ke 21. Jurnal Kebangsaan Pengetua-Pengetua Sekolah Menengah Malaysia. 2: 37-52.
Merill, M.D. 1983. Component Display Theory in Regeluth, C (ed). Indtructional design theories and models. New Jersey: Erlbaum Hillsdale.
Mohd Fadzli Ali. 2001. Distance Education: Constructivism and the Internet. Prosiding Konvensyen Teknologi Pendidikan Kali ke 14. hlm. 242-246.
Gagne, R. 1985. The conditions of learning and theory of instruction. Ed ke 4. New York : Holt Pub.
Perkins D.N. 1991. technology meets constructivism: do they marriagel ?. Educational Technology, 31, No.5:18-23.
Phillips, Rob. 1977. Interactive Multimedia: A practical guide for educational applications. USA: Kogan Page.
Pusat Perkembangan Kurikulum. 1991. Pembelajaran secara Konstruktivisme. Kuala Lumpur: Kementerian Pendidikan Malaysia.
Reiber, L.P. (1994). Computer-based Microworlds: A bridge between constructivisme and direct instruction. Educational Technology Research and Development, 40 (1)
Roblyer, M.D. & Edwards, Jack. 1997. Integrating Educational Technology into Teaching. Ohio: Prentice Hall.
Sardiman,A.M.1986.Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar.Jakarta:PT.Raja Grafindo Persada
METODE PERMAINAN DOMINO MATEMATIKA
A. Pengertian Domino
Domino adalah permainan individu/kelompok yang menggunakan satu set domino (kadang disebut kartu domino) atau permainan yang dimainkan dengan kartu itu. (Wikepedia, the free encyclopedia)
1. Permainan Domino
Permainan domino secara filosofi dapat memberikan konstribusi atas penguatan nasionalisme kita. Selain kebersamaan yang sudah diuraikan, nilai lainnya yang bisa kita dapatkan dari permainan ini yakni :
a. Kedisiplinan, bisa dibayangkan jika pemain domino tidak disiplin. “menurunkan” kartu padahal bukan gilirannya misalnya, tentu pemain menjadi kacau. Oleh karena itu, dalam pertandingan kesalahan demikian mendapatkan sanksi berupa poin untuk lawan.
b. Saling pengertian, pemain domino sangat membutuhkan saling pengertian. Pemain tidak boleh mementingkan dirinya sendiri. Dibutuhkan kebersamaan bahkan pengorbanan untuk kemenangan tim. Dalam bergaul, bekerja, dan konstribusi lainnya untuk bangsa, saling pengertian untuk sesama jelas sangat dibutuhkan.
c. Kerja sama, kemenangan tim (pasangan) dalam permainan domino menjadi penentu kemenangan tim. Kerja sama menjadi poin yang mutlak.
d. Sportivitas dan kejujuran, dua hal ini menjadi nilai yang terkandung dalam permainan doming (bugis, red). Jujur untuk tidak mengelabuhi lawan. Sportif untuk tidak menggunakan kode dan sandi demi kemenangan. Kemenangan permainan menjadi tujuan, tetapi sportivitas dan kejujuran menjadi nafas permainan. (Sultanhabnoer, 2007)
2. Domino Matematika
Domino matematika yang dimaksud dalam hal ini adalah kartu domino yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga memuat pesan-pesan matematika sesuai dengan tujuan yang akan dicapai.
Domino matematika dapat dibuat variasi, yaitu variasi tunggal dan majemuk. Variasi tunggal artinya bahwa domino matematika dirancang hanya untuk menyajikan pencapaian satu tujuan, misalnya TPK : Siswa dapat menentukan nilai fungsi sinus suatu sudut. Dalam hal ini semua kartu domino dirancang mengandung sinus-sinus suatu sudut. Karena fungsi yang dibicarakan hanya sinus, maka domino itu disebut DOSIN.
Contoh modifikasinya adalah sebagai berikut :
No. KARTU DOMINO DOMINO MATEMATIKA
01 Jumlah Kartu Domino adalah 28 lembar Jumlah kartu domino matematika tidak harus 28 disesuaikan dengan keperluan/tujuan.
02 Ada aturan permainan Ada aturan permainan (Aturan permaianan dapat berubah sesuai dengan kesepakatan).
03 Lambang kartu domino berupa sejumlah bulatan / titik Lambang-lambang kartu domino matematika berupa sejumlah meteri yang akan dibicarakan
04 Contoh kartu domino
Contoh kartu domino matematika
Domino matematika untuk sinus sudut-sudut istimewa
(X) 0˚ 30˚ 45˚ 60˚ 90˚
Sin (X) 0 ½ ½ √2 ½ √3 1
Yang dapat dibuat sebagai berikut :
Sedangkan variasi majemuk artinya bahwa domino matematika dirancang untuk pencapaian beberapa tujuan pembeljaran (dalam satu rumpun) secara serentak. Misalnya fungsi sinus, cosinus tangen, Ctg, Sec, secara serempak. Dalam hal ini jumlah kartunya semakin banyak. Oleh karena itu pemainnya juga boleh banyak.
B. Kegunaan
Keguanaan alat ini adalah untuk meningkatkan skill matematika dan juga mempermudah siswa memahami konsep trigonometri, sehingga siswa merasa senang karena mereka dapat belajar melalui bermain. ('Green Apple', - )
C. Alat, Bahan dan Petunjuk Pembuatan
1. Alat : Gunting/curter, pulpen/spidol dan penggaris.
2. Bahan : Kartu/Karton.
D. Pentunjuk Pembuatan
Adapun petunjuk pembuatan kartu domino matematika yaitu sebagai berikut :
1. Pembuatan kartu domino matematika diserahkan kepada peserta sebagai tugas kelompok yang dikerjakan. Hal ini dimaksudkan agar mereka merasa ikut memiliki (sense of belonging), merasa bertanggung jawab dan memahami seluk-beluknya. Masing-masing kelompok terdiri dari 3 atau 4 orang, agar terjadi saling kerja sama bahu membahu.
2. Tiap-tiap kelompok hanya diberi tugas untuk membuat kartu domino matematika dengan variasi tunggal sederhana saja.
Misalnya : DOSIN untuk 0˚ - 90˚, DOSIN 180˚ - 270˚
DOTANG untuk 90˚ - 180˚, dan sebagainya.
Hal ini dimaksudkan agar terjadi interdependence antar kelompok
3. Sebaiknya ukuran kartu diseragamkan, misalnya 4×2 cm agar rapi, dan tulisan dipakai spidol berwarna agar tampak indah dan serasi.
4. Untuk membuat variasi majemuk, hanya dengan memadukan kartu variasi tunggal dengan sorting, sesuai dengan tujuan.
E. Petunjuk Bermain Domino Matematika Dan Penggunaannya
Kita dapat membuat aturan permainan yang disepakati bersama, misalnya untuk kartu DOSIN diatas dengan jumlah kartu 25 buah dan pemain 4 orang. Kartu dibagikan tiap orang mendapat 6 kartu. Kartu sisanya diletakan terbuka diatas meja, sebagai pembuka permainan. Lalu pembagi kartunya tadi, menurunkan sebuah kartunya yang menyambung salah satu nilai yang sama dengan kartu yang ada di atas meja. Kalau tidak ada kartu yang memenuhi, maka ia tidak berhak menjalankan kartunya, dan diteruskan pada pemain berikutnya. Untuk pemain yang tidak dapat menjalankan kartunya karena kesulitan menentukan pilihan yang sesuai maka diberi batas waktu samapai 2,5 menit. Bila melebihi batas waktu yang ditentukan maka dilanjutkan pemain berikutnya dan pemain yang lain diharapkan dapat membantu kesulitan tersebut. Jika ada pemain yang salah dalam menjalankan kartunya maka pemain yang lain berhak menolaknya. Demikian seterusnya, sehingga yang kartunya habis lebih dahulu itulah pemenangnya.
Contoh:
DAFTAR PUSTAKA
Green Apple'. - permainan domino. http://Green Apple.wordrpress.com/suara MB. Kota Batu/permainan-domino/.
Diakses tanggal 25 September 2007
Kusno. 2005. Profil alat peraga matematika. Universitas Muhammadiyah Purwokerto
Sultanhabnoer. 2007. Permainan domino. http:// sultanhabnoer.wordpress.com/2007/08/21/Nasionalisme-dari-permainan-domino/. Diakses tgl 24 september 2007
Wikepedia, - the free encyclopedia. Domino. http://enwikipedia.org/wiki/Dominois/. Diakses tanggal 01 September 2007
Tidak ada komentar:
Posting Komentar